Wince

Senin, 28 April 2014

Penpop Ceria #4 : Life is a Boom Bust Cycle

Diposting oleh Winda (윈다) di 21.43 0 komentar
Huaaaa udah lama ga ngepos penpop. Baiklah, kali ini cerita yang gue tulis adalah dongeng dengan sorot balik. Mungkin sebagian dari anda taunya flashback. Yah semacam itulah ya. Menurut gue agak susah karena gue kabur dengan definisi sorot balik itu sendiri, awalnya. Alhasil dongeng yang gue bikin kurang bisa dibilang dongeng sorot balik. Kebetulan gue nulis ini setelah nonton divergent, jadi gue masih agak terobsesi dengan masa depan. Selain itu minggu sebelumnya bapake juga nyuruh kita berimajinasi sedemikian rupa. Jadilah gue nulis dongeng ini.  Sayangnya hasil tulisan gue ini ga dapet terlalu bagus hikss. Eke pos komentarnya kapan-kapan. Sekarang lagi ga bawa kertasnya huhu. Well, life is a really boom bust cycle. Ada kalanya lo di atas walaupun lebih banyak di bawahnya lol. Ga lah ya kaaak :D



Ok tanpa perlu berpanjang lebar, check this out kaka~




Tongkat yang Bukan Tongkat

            Aku masih duduk disitu. Tepat di depan kesaktianku. Aku merangkai  huruf demi huruf dan kata demi kata. Kesaktianku yang lain berbunyi “tininit tininit”. Ah, sudah saatnya membersihkan tongkatku. Aku meraih tongkat di sebelahku. Aku dekap tongkat itu erat-erat dan aku belai. Aku ambil sehelai kain untuk mengelap permukaannya. Air mataku perlahan menetes di tengah keheningan. Hening .. sendiri tanpa siapapun. Tak ada teman atau sahabat.
            Awalnya hidupku bahagia. Walaupun mungkin tidak bisa dikatakan mewah dan megah yaaah … tapi aku cukup bahagia. Aku tinggal di sebuah desa bernama Babacan. Aku punya istri yang sangat cantik. Kembang desa, kata semua orang di sekelilingku. Aku sangat beruntung mendapat seorang istri seperti  Mahisa. Ia tidak hanya cantik rupanya, melainkan cantik hatinya. Setiap pagi aku selalu berangkat ke ladang dan siang hari aku akan berkunjung ke sungai untuk mencari ikan. Babacan bukanlah tempat tinggal yang mewah. Banyak yang hidup kekurangan disini termasuk kami.  Terkadang Mahisa yang baik hati memberikan ikan tangkapanku pada tetangga yang kelaparan. Mahisa juga sering membakar jagung dan memberikannya pada beberapa ibu tua di sekitar rumah kami. Aku tahu kami miskin namun memiliki Mahisa membuatku lupa akan hal itu.
Suatu waktu terjadi kekeringan yang sangaat dahsyat. Air sulit ditemukan dan persediaan bahan makanan berkurang sedikit demi sedikit. Banyak orang yang kelaparan hingga meninggal. Beruntunglah aku dan istriku masih mempunyai beberapa singkong simpanan. Hari ini singkong habis dan aku harus mengambil singkong lain di kebun kami. Aku tidak yakin masih ada singkong yang bisa tumbuh di sela-sela kekeringan seperti ini. Sesampainya disana alangkah beruntungnya aku menemukan singkong yang masih tumbuh. Aku pikir singkong ini akan cukup untuk tiga hari ke depan. Namun, di terngah perjalanan aku bertemu dengan seorang ibu tua yang lemas dan pucat pasi. Ia tergeletak di pinggir jalan. Wanita tua itu masih hidup namun bibirnya sangat kering. Sepertinya ia belum makan selama beberapa hari. Aku tidak tega meninggalkannya dalam keadaan seperti itu. Aku mengambil batok kelapa dan berusaha mencari sungai terdekat. Akibat kekeringan yang dahsyat, air sungai kering kerontang. Aku tidak bisa membawakan air untuk ibu tersebut. Akhirnya aku memberikannya air bekalku. Ibu itu sangat berterima kasih atas pertolonganku.  Walaupun terlihat sedikit segar, Ibu itu masih belum bisa jalan karena sangat lemas. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Rasa iba menghampiriku dan tanpa sadar aku memberikan singkong itu pada ibu tersebut. Ia pun merasa kaget dan bertanya apakah aku benar-benar yakin memberikan singkong itu padanya. Entah gerangan apa yang merasukiku. Aku sangat ingin menolongnya. Wanita tua itu menangis dan tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih. Dan begitulah diriku …. Pulang dengan tanpa hampa dan memberi makan angin pada istriku tercinta. Namun seperti yang aku katakan di awal, istriku adalah bidadari. Hatinya yang seputih kapas mengerti hal tersebut dan tidak mempermasalahkan apa yang ku lakukan sore tadi.
Malam pun menyapa mengusir sang fajar. Aku tahu istriku lapar. Begitu juga denganku. Namun, bidadari tersebut hanya tidur dan berharap kantuk dapat mengobati rasa laparnya. Aku mencoba tertidur juga namun apa daya perutku meraung-raung dengan ganas. Aku bangkit dari tempat tidur dan keluar gubuk untuk sekedar mencari angin. Aku lebih dari sekadar lapar. Ah, seandainya tiba-tiba jatuh hujan dari langit. Hujan singkong atau ubi. Aku pasti sangat bersyukur. Aku berjalan kesana kemari. Dinginnya malam terasa sangat menggigit dan hanya ada batu di depan ku. Aku pernah dengar, sesuatu yang dimakan saat sangat lapar akan menjadi sangat nikmat. Apa mungkin batu akan teasa lebih nikmat jika dimakan dalam keadaan lapar seperti ini? Entahlah, aku belum tahu dan sepertinya tidak tertarik untuk mencari tahu. Ketika aku sedang sibuk bergulat dengan berbagai pertanyaan di benakku tiba-tiba terdengar suara gedebuk dan muncul kilauan cahaya dari balik pohon. Aku tidak tahu apa itu. Tiba-tiba muncul lah seorang perempuan yang sangat cantik. Aku sudah bilang Mahisa seperti bidadari tapi perempuan ini … ah, kau tidak akan pernah bisa memungkiri bahwa dia sangat … sangaat cantik. Rambut ikalnya terlihat hitam berkilau, kulitnya kuning langsat dan mata birunya ah … laparku terasa hilang sejenak. Ia mengenakan gaun putih dan yang lebih luar biasa … ia mengeluarkan cahaya dari tubuhnya. Wah, luar biasa. Aku merasa aku sedang bermimpi.

“Halo Adam! Masih ingat aku?”
“Si-siapa kamu? Apa kita pernah bertemu?”
“Tentu saja, kita bertemu siang tadi. Kau menolongku dan memberikanku air  dan singkong. Ingat?”
“Hemhh tapi … yang aku tolong siang tadi …
“Adalah ibu tua yang tergelatak di pinggir jalan, mukanya jelek, rambutnya berantakan, badannya lemas, dan bibirnya kering. Itu kan yang kamu pikirkan? ” potong wanita cantik itu.
“Hahaha sudah ku kira kamu tidak akan bisa mengenaliku dalam wujud asliku. Aku Enelis. Aku adalah dewi kesembilan dari delapan dewi yang ada di khayangan. Ah sebentar, sepertinya ada yang aneh …? Oh maaf maaf, maksudku, aku adalah dewi ketujuh dari delapan dewi yang ada di khayangan. Aku tidak terlalu pandai berhitung.”
“Ah ya… begitu ya …”
“Loh, kamu tidak kaget? Tidak terkejut?”
“Aku terlalu lapar untuk terkejut”  jawabku
“Ah begitu rupanya … baiklah.”
Wanita itu mengangkat tangannya. “Tralala trilili sim sim”. Tiba-tiba muncullah sepiring makanan. Ia mempersilahkan aku untuk menyantap makanan itu. Aku menciumnya. Baunya sangat enak. Aku tidak tahu makanan apa itu. Baunya yang nikmat membuatku menghabiskannya dalam sekejap. Dewi cantik itu tersenyum menatapku.
“ Baiklah, sudah cukup kenyang untuk terkejut? haha”
Aku hanya bisa nyengir menahan malu.

“Aku kesini untuk berterima kasih atas kebaikanmu sekaligus memberikanmu hadiah.”
“Hadiah? Hadiah apa?”
“Karena kebaikan hatimu, aku akan mengabulkan satu permintaanmu.”
“Wah, benarkah??”
“Tentu saja.”
“Apapun?”
“Apapun … kecuali menikahiku. Aku sudah tunangan soalnya dan juga aku tidak mau dimadu.” Jawabnya sambil menunjukkan jari manisnya.”
“Hemmh … apa ya??”
“Apapun,  Dam. Apapun yang kau minta akan aku kabulkan.”

Setelah berpikir beberapa saat akhirnya aku memutuskan permintaanku
“Aku mau kesaktian.”
“Kesaktian??”
“Iya kesaktian.” Tegasku.
“Kesaktian yang bagaimana?”
“Hemhh … kesaktian yang membuat aku dan istriku bisa selalu makan enak tanpa istriku harus capek-capek memasak. Kesaktian yang bisa membuat aku dan istriku makan nasi dengan nikmat tanpa Mahisa perlu memasaknya di dandang tua. Kesaktian yang membuat kami bisa melihat seluruh dunia. Kesaktian yang membuat orang lain menyanyi untuk aku dan istriku kapanpun kami ingin mendengarkan hiburan. Kesaktian yang membuat aku tidak harus kepanasan saat musim kemarau. Kesaktian yang bisa membuat bajuku dan istriku bersih tanpa istriku perlu mencuci di sungai. Kesaktian yang membuat kami bisa tinggal di rumah yang bagus dan bukan gubuk seperti yang kami miliki sekarang. Kesaktian yang bisa membuatku mengeluarkan air tanpa harus menimba terlebih dahulu. Ya, aku ingin kesaktian seperti itu.” jelasku panjang lebar.
“Wah, banyak juga ya kesaktianmu. Kenapa kamu ingin memiliki kesaktian?”
“Aku sudah lelah hidup seperti ini dewi. Aku juga bosan kelaparan.”
“Bukankah kamu sudah bahagia hidup dengan Mahisa?”
“Ya benar, Mahisa membuatku bahagia namun kerasnya hidup membuatku merasa lelah.”
 “Baiklah, karena aku sudah berjanji, aku akan mengabulkan permintaanmu. Pergilah ke laut selatan bersama istrimu menjelang petang esok hari. Disana kamu akan melihat sebuah benda seperti rakit di tengah laut. Rakit yang sangat besar itu adalah kapal. Kamu harus naik ke dalam kapal itu bersama istrimu. Namun, ada satu janji yang harus kau penuhi”
“Apa itu dewi?”
“Selama perjalanan dari rumah hingga ke laut selatan kamu tidak boleh menoleh ke istrimu. Kamu  juga harus menggandengnya sepanjang jalan hingga naik ke dalam kapal. Selain itu, kamu tidak boleh makan apapun yang ada di dalam kapal itu. Jika kamu melanggar janjimu maka akan terjadi hal yang tidak kamu inginkan dalam hidupmu”
“Baik dewi, aku berjanji.”
“Bagus, aku pegang janjimu, ya. Aku pergi dulu Adam.”
“Tunggu sebentar dewi!”
“Ada apa?”
“Bolehkah aku meminta makanan tadi sepiring lagi? Mahisa belum makan dari kemarin.”
“Jadi, kamu mau kesaktian atau makanan? Ingat loh, permintaanmu hanya satu.” ledek dewi itu.
“Jadi tidak boleh ya?” tanyaku sedih
“Haha boleh kok boleh. Aku kan baik hati.”
Dewi Enelis kembali mengangkat tangannya dan dengan lantang mengucapkan “tralala trilili sim sim”
Tiba-tiba muncullah sepiring makanan di tangannya.
“Ini, berikanlah pada Mahisa.”
“Terima kasih dewi. Terima kasih.”
“Sama-sama. Aku pergi dulu.”

            Keesokan harinya aku pergi bersama Mahisa. Seperti janjiku pada Dewi Enelis aku tidak menoleh ke Mahisa sepanjang jalan. Sesampainya di Laut Selatan, aku melihat benda yang dikatakan Dewi Enelis. Ya, rakit itu sangat besar. Sangaaaat besar dan … tidak seperti rakit. Aku dan Mahisa naik ke dalam kapal. Luar biasa!  Tidak ada lagi perkataan yang dapat kusebutkan. Rakit ini sangat luar biasa! Sesampainya di atas kapal terlihat seseorang yang berpakaian sangat rapi menghampiri kami dan menawarkan buah-buahan. Aku menolak dengan sopan. Beberapa saat kemudian, datanglah orang lainnya menawarkan jagung bakar. Ah .. Aku ingin tapi … tidak tidak. Beberapa saat kemudian datang seseorang lainnya membawa ubi bakar yang terlihat sangat nikmat. Baunya menggodaku. Aku berpikir mungkin tidak apa-apa jika mencoba sedikit. Lantas aku pun mengambil ubi bakar itu dan melepaskan genggaman istriku. Tiba-tiba gumpalan asap muncul dari tubuh Mahisa. Aku sangat kaget. Belum habis kagetku tiba-tiba kapal berguncang dengan hebat dan naik ke atas langit. Aku terjatuh dan kepalaku membentur dinding kapal.
            Secercah cahaya membangunkanku. Aku mengerjapkan mata perlahan. Dewi Enelis berdiri di depanku sambil tersenyum.
“Sudah sadar, Adam? Masih pusing?”
“Iya kepalaku pusing sekali.”
“Selamat datang di dunia yang sakti. Aku menyebutnya abad 21. Keinginanmu sudah terwujud.“
“Terima kasih tapi dimana istriku?”
“Dia ada di sebelahmu,”
Aku menoleh ke kanan dan ke kiri namun tetap tidak bisa menemukan Mahisa.
“Aku tidak melihatnya, dimana dia?”

Dewi Enelis lalu menunjuk sebuah tongkat di sampingku.
“Itu Mahisa. Ia telah berubah menjadi tongkat karena kamu melanggar janjimu untuk tidak melepaskan genggamannya dan tidak makan apapun di kapal itu.”
“Apaaaa?? Tapi Dewi aku …. Aku ….”
Aku menyesal telah melanggar janjiku Aku kehilangan kata. Aku mendekap erat tongkat itu dengan penuh tangis tepat seperti saat ini. Lalu aku pun menyeka air mataku. Tongkat ini bukan sekedar tongkat. Tongkat ini akan menjadi cinta pertamaku dan cinta terakhirku.
Sekarang aku hidup di dunia yang sangat sakti dan tentu akupun juga ikut menjadi sakti. Aku bisa makan tanpa harus memasak. Yang perlu aku lakukan hanyalah mengatakan “tralala trilili sim sim” sambil memencet 14*45 pada sebuah benda penuh angka dan mengatakan “Halo aku mau ayam dan nasi.” Lalu secara ajaib makanan akan tiba di hadapanku 30 menit kemudian. Aku juga bisa makan nasi tanpa memasaknya di dalam dandang. Aku hanya perlu memasukan butiran beras ke dalam sebuah alat bundar bernama rice cooker dan secara ajaib beras akan berubah menjadi nasi. Keinginanku agar orang lain menyanyi untukku kapanpun aku mau juga terwujud. Aku hanya perlu mengatakan ‘tralala trilili sim sim’ dan menekan tombol bertuliskan ‘on’ pada sebuah benda kotak lalu secara ajaib orang-orang yang mengatakan bahwa mereka berasal dari pramb*rs akan menyanyikan lagu untukku. Aku juga tidak perlu menimba air. Cukup ‘tralala trilili sim sim’ sambil memutar sebuah alat bernama keran dan air akan keluar tanpa henti. Kesaktianku belum selesai. Sekarang aku tidak perlu mencuci bajuku sendiri dan tidak akan pernah kepanasan saat musim kemarau. Semua hanya perlu ‘tralala trilili sim sim’ sambil menekan tombol on lalu sebuah benda kotak yang kata Enelis bernama mesin cuci dan AC akan mencuci baju dan mendinginkan ruangan. Matahari mulai bergeser ke arah barat. Sudah saatnya aku melihat dunia. Aku kembali mengucap ‘tralala trilili sim sim’ sambil menekan tombol ‘on’ pada sebuah benda persegi panjang dengan berbagai nomor di dalamnya. Secara ajaib aku bisa keliling dunia. Aku bisa melihat Korea, Jepang, Australia dan masih banyak lagi. Aku menyebut ini sebagai kesaktian yang paling hebat. Dewi Enelis mengatakan padaku bahwa ini adalah TV. Wow! Aku sakti sekarang! Aku bangga! Tapi aku masih rindu Mahisa dan semua tetangga kami di Babacan. Kalau waktu bisa diulang, aku tidak akan pernah menukar Mahisa dan kehidupanku dengan tongkat dan kesaktian ini. Tidak akan pernah …

Kamis, 27 Maret 2014

And if you lose yourself, I will find you

Diposting oleh Winda (윈다) di 21.04 0 komentar

I'll run away with your foot steps
I'll build a city that dreams for two
And if you lose yourself
I will find you


Mungkin ga banyak yang tau Zedd itu apa atau Zedd itu tepatnya siapa? Terutama buat mereka yang ga terbiasa denger radio atau mungkin nonton TV kabel. Well gue juga ga nonton itu sih tapi gue langganan dengerin Prambors. Dan dari berbagai artis yang nongol di Prambors salah satu yang mencuri perhatian gue adalah Zedd. Awalnya gue pikir Zedd itu adalah cewek atau setidaknya band yang ada anggota ceweknya. Ternyata perkiraan gue salah besar. Yang pertama Zedd itu JELAS bukan band. Zedd itu juga JELAS bukan cewek, yang kaya gue kira sebelumnya haha. Nama asli dia adalah Anton Zaslavski dan kalo menurut Wikipedia mas Anton ini adalah seorang produser musik dan DJ Rusia-Jerman.Lahirnya 89 ... cuma beda 3 taun sama gue!!! *terus? :p

mtv.com


Semua yang tau  Zedd  pasti ga akan asing sama Clarity. Lagu inilah yang pertama mencuri perhatian gue. Lagu ini adalah hasil kerja bareng Zedd sama Foxes. Enak banget emang. Dan manisnya lagu inilah yang bikin dia bisa naik ke peringkat 8 billboard. Sebuah prestasi yang bagus loh mengingat ini adalah billboard. Lagu ini juga katanya dapet Grammy Award untuk kategori ' Best Dance Recording'





Setelah mengguncang dunia dengan clarity, Zedd kembali mencetarkan dunia dengan ‘Stay The Night’. Nah beda dengan sebelumnya, sekarang ZEDD kerja bareng Hayley Williams. Lagu ini lagi-lagi menghiasi berbagai chart music dunia termasuk TOP 40nya prambors dan ASIA POP 40nya Dom Lau. Honestly, gue belum pernah sekalipun nonton video klipnya stay the night sebelum kemarin siang. Dan ternyata emang keren banget. Kalo gue disuruh milih salah satu antara Foxes dan Hayley Williams gue ga akan bisa milih mana yang lebih bagus atau mana yang lebih jelek. Dua-duanya punya karakter masing-masing dan dua-duanya bener-bener menarik. Satu hal yang gue bisa pastikan adalah Zedd ga salah pilih mereka sebagai partner lagunya. Nendang banget lah pokonya!




Kemudian setelah berhasil ngeksis lewat clarity dan stay the night, Zedd kembali menyapa dunia dengan ‘Find You’. Lirik yang ada di paling atas dari postingan ini adalah reffnya Find You. Manis. Pertama kali denger lagu ini gue ….. nangis haha. ciyusan! Ga tau kenapa mungkin karena gue lagi PMS dimana gue jadi sangat emosional lol :p
Padahal gue juga belum denger liriknya dalem-dalem tapi denger melodinya aja bikin gue nangis. Lalu setelah gue cari tau ternyata ini lagunya Zedd! Satu hal yang beda dengan lagu-lagu sebelumnya, kali ini ZEDD kolaborasi sama dua orang sekaligus yaitu Matthew Koma dan Miriam Bryant. Pertama kali gue denger lagu ini gue kira ada dua cewek berbeda yang nyanyi lagu ini. Ternyata gue salah sangat besar karena ternyata yang nyanyi adalah satu cowok dan satu cewek. Setelah denger lagu ini gue memutuskan bahwa gue akan menjadi fans Miriam Bryant <3 Sumpah suaranya jempool dan nyatu banget sama lagunya. Ada orang yang punya warna suara (?) yang emang bagus banget. Itu bukan suatu hal yang bisa dilatih tapi itu adalah murni anugerah Tuhan. Dan menurut gue pribadi warna suaranya Miriam Bryant itu manis banget. Somehow doi ngingetin gue sama salah satu vokalisnya Krewella yang namanya Jahan Yousaf. Ga mirip sih emang tapi ga tau kenapa bikin gue inget aja…


Oh iya, katanya lagu ini juga jadi soundtracknya divergent ya? Gue belum nonton sih tapi ...

"Iya, jadi katanya divergent itu mirip hunger games"

Hemhhh oke, kayanya menarik


"Find younya Zedd tuh katanya soundtrack di divergent looh!"


Bah! Gue harus nonton ini! :D






Don't forget to check the the acoustic version too!  *ga tau kenapa ini gue ga bisa insert videonya T.T




Dateng lagi ya mas Anton ke Indonesia! Mudah-mudahan saat itu gue punya uang, waktu dan tenaga buat nonton dikau <3




Jadi apakah yang disana, yang suka Mocca dan mendengarkan beberapa lagunya Owl city, pernah dengerin Zedd? apa kita masih punya selera yang sama? 잘 지냈니? 보.고.싶.어  ... unfortunately, I can't find you .....

Selasa, 18 Maret 2014

Penpop Ceria #3

Diposting oleh Winda (윈다) di 21.57 0 komentar
Dongeng. Aaaah gue ga terlalu suka nulis dongeng .... JADI GUE SUKANYA NULIS APA SIH? hahaha

gue kembali ga ada ide nulis dongeng apa ... so here it is .... gabungan antara bawang merah bawah putih yang gue mix pangeran kodok dalam gaya sunda. alurnya linear atau alur maju


Lilis dan Pangeran Katak

            Zaman dahulu kala di sebuah negara bernama negara Parahiyangan hiduplah seorang gadis cantik bernama Lilis. Lilis hidup dalam sebuah keluarga yang bahagia. Ayahnya adalah seorang saudagar sukses yang sering bepergian ke berbagai negara untuk menjual rempah-rempah dan ibunya sangat cantik serta baik hati. Kebahagiaan Lilis bertambah sempurna dengan kehamilan Ibunya. Ya! Ia akan menjadi seorang teteh sebentar lagi! Setelah mengandung selama sembilan bulan, ibunya melahirkan seorang anak. Namun sayang, dewi fortuna nampaknya tidak berpihak pada Lilis. Ibu serta adik yang diidamkannya meninggal saat melahirkan.  Hal ini tentu membuat Lilis sangat sedih. Ayahnya yang tidak tega melihat kesedihan Lilis akhirnya memutuskan untuk menikah lagi. Pernikahan ini menghadiahkan Lilis seorang kakak tiri bernama Neneng. Awalnya ibu tiri sangat baik hati namun setelah ayah Lilis meninggal dunia, ibu tiri dan Neneng selalu menyuruh Lilis berbagai hal dan memarahinya. Lilis juga dipaksa untuk tidur di loteng yang kotor dan banyak nyamuknya. Ketika malam tiba, Lilis menangis tersedu-sedu merindukan orang tuanya.
 

“Emaak abaaah, Lilis teh rindu emak abah. Rindu pisan emak baaah”, tangis Lilis

            Suatu hari ibu tiri menyuruh Lilis untuk mencuci baju. Lilispun pergi ke sungai belakang rumah untuk menuruti perintah ibunya. Ketika sedang mencuci baju, tiba-tiba Lilis melihat katak yang berteriak minta tolong. Lilispun kaget karena baru kali ini ia melihat katak bisa berbicara.

“Tolong … tolong akuuu. Tolooong” teriak katak itu.

“Eleuh eleeeuh, kamu teh bisa bicara ya? ujar Lilis terkesima.

“Iya, iya aku teh bisa bicara, tapi tolonglah aku dulu. Aduuuh kakiku sudah mau copot ini rasanya” teriak katak

Lilispun mengangkat batu yang menindih kaki si katak dan menggendongnya lalu menaruhnya di atas tanah yang kering.

“Aduh, nuhun ya teh, terima kasih banyak ….”

“Sama-sama om katak. Aku senang bisa membantu.”

“Om? Aduh aku teh masih muda. Tolong jangan panggil om”

“Lalu aku teh panggil apa? Namamu siapa?”

“Namaku Aji. Panggil aku Aji saja.”
“Aku teh lilis. Baik, Kang Aji. Kaki akang teh ga apa-apa? Sekarang akang duduk saja dulu ya disini. Istirahat dulu. Kasihan kaki akang. Aku mau cuci baju dulu.”

Setelah menyelesaikan pekerjaannya Lilispun kembali ke tempat sang katak dan membawa air dalam batok kelapa.

Kang, kang Aji. Akang bisa jalan?” tanya Lilis penuh kekhawatiran.

“Sepertinya kakiku agak terluka. Aku tidak bisa jalan.” Jawab sang katak

“Baiklah, bagaimana kalau akang ikut aku pulang? Aku akan mengobati kaki akang.”

“Benarkah?” tanya sang katak kaget

“Ya, tentu saja … ” jawab Lilis dengan lemah lembut.

Akhirnya sang katak dan Lilis pun pulang ke rumah. Lilis memberikan katak ramuan dari daun jarak yang biasa dipakai untuk menyembuhkan luka memar. Katak merasa sungguh bersyukur karena mendapat bantuan Lilis. Mereka bicara semalaman mengenai banyak hal. Ternyata sang katak adalah binatang yang sangat menyenangkan. Lilis tertawa terpingkal-pingkal semalaman mendengar leluconnya.
Namun sayang keesokan paginya, Neneng mengetahui bahwa Lilis pulang dan membawa katak masuk ke rumah. Nenengpun langsung mengadu pada ibunya

“Emaaak, emaaak, lihat itu mak, Lilis teh bawa katak masuk rumah.” teriak Neneng

“Apa?? Heh, Lilis! Kamu teh udah gila ya? Masa katak kamu bawa masuk? Cepat buang keluar! Dasar borokokok!” maki ibunya

“Emak, katak ini teh luka karena kakinya tertindih batu, kasian emaak.”

“Emak ga peduli! Pokoknya keluarin katak itu sekarang juga! Sekarang! Eh maneh teh ga nurut ya sama emak??”

“Ta-ta pi mak … ka-ka-kasihan katak ini”

“Kalau maneh ga mau buang katak itu, sok atuhlah keluar sana dari rumah! Keluar!! ” bentak ibunya.

            Katak menyuruh Liis untuk membuang dirinya keluar dari rumah namun Lilis yang baik hati tidak mau karena merasa kasihan dengan kaki katak. Akhirnya Lilispun ikut keluar dari rumah. Katak merasa sangat terharu dengan kebaikan hati Lilis. Mereka berjalan tanpa arah dan tujuan dan tiba-tiba hujanpun turun dengan lebat. Lilis mencari sebuah pondokan kosong untuk berteduh. Katak meminta maaf pada Lilis karena telah mmbuatnya diusir dari rumah. Namun Lilis mengatakan ia sangat bersyukur karena telah bertemu katak yang mau menjadi temannya. Akhirnya hujanpun berhenti. Sebuah pelangi yang sangat indah muncul di langit. Katak meminta tolong pada Lilis untuk membawanya ke sebuah danau di tengah hutan. Lilispun berjalan hingga ke tengah hutan dan mendapati sebuah danau yang sangat indah. Lilis merasa terkesima. Belum pernah ia melihat danau seindah itu sebelumnya

“Indah sekali danau ini kang!”
“Iya, memang indah sekali. Hemhhh ….  Lilis akang mau tanya satu hal … tapi kamu teh jangan marah ya”
“Silahkan kang”
“Apa kamu mau mencium pipi akang?”
“Me …. Mencium pipi akang ….?”
“Iya … Tapi itu teh kalau kamu bersedia lis.”

Lilispun tersenyum dan tanpa ragu langsung mencium pipi sang katak. Sebuah keajaiban terjadi.  Asap menyelubungi katak tersebut, matahari langsung menampakan sinarnya, angin berhembus mesra dan bunga-bunga di sekitar mereka bermekaran. Lilis kaget dan langsung melempar katak tersebut.  Tiba-tiba katak tersebut menghilang dan berganti dengan seorang laki-laki yang sangat tampan.

Wilujeng siang Lilis …. Selamat siang ” ucap lelaki tampan itu.

“Si-siapa kamu?”

“Aku teh Aji. Sebenarnya namaku adalah Prabu Seto Aji. Aku adalah pangeran negeri ini. Aku mendapat kutukan karena makan jengkol keramat di istana. Sejak itu aku berubah menjadi katak. Ayah dan Ibuku sangat bingung. Mereka bertanya pada ahli ramal istana dan beliau mengatakan bahwa kutukanku hanya akan sirna apabila seorang gadis mau mencium pipiku dengan sepenuh hati. Sejak saat itu aku berkelana mencari gadis berhati emas yang mau membantuku melepaskan kutukan ini.” jelas pangeran Aji panjang lebar.

“Oh begitu rupanya …..”

“Terima kasih lis. Terima kasih banyak telah merawat kakiku dan melepaskanku dari kutukan.”

“ Sama-sama kang. Lilis senang bisa membantu akang.”

“Lilis, maukah kamu menjadi pendamping hidupku?”

“A-apa kang?”

“Menjadi pendampingku …  menjadi istriku dan memerintah negeri ini bersama.”

“Ta-tapi .. aku hanya rakyat biasa. Tidak pantas dengan akang yang seorang pangeran.”
“Tidak lis, kebaikan hatimu telah membuktikan bahwa kamu sangat pantas menjadi ratu. Bersediakah kau menjadi istriku, lis?”

“Baiklah kang, aku bersedia ….”

Prabu Seto Ajipun membawa Lilis ke istana. Semua warga istana sangat berbahagia melihat Prabu Seto Aji yang sudah berubah kembali menjadi seorang pangeran tampan. Seminggu kemudian sebuah pesta pernikahan digelar di istana. Seluruh pelosok negeri diundang termasuk ibu tiri dan Neneng. Ibu tiri dan Neneng merasa sangat kaget melihat Lilis menikah dengan sang pangeran. Mereka meminta maaf atas kesalahan mereka selama ini. Lilis yang baik hatipun memaafkan mereka dan mengajak mereka tinggal di istana. Lilis memperingati mereka untuk tidak menyentuh jengkol keramat namun suatu hari ibu tiri dan Neneng tergoda dengan bau nikmat jengkol keramat. Merekapun memakan jengkol tersebut. Lilis tiba-tiba datang dan merasa terkejut melihat mereka yang sedang makan jengkol keramat dengan nikmat. Namun sayang, sebelum Lilis berhasil menghentikan mereka, ibu dan saudara tirinya telah berubah menjadi batu. Lilis merasa sedih namun ia harus melanjutkan hidup. Setahun kemudian Lilis dan Prabu Seto Aji dikaruniai seorang putri yang cantik jelita dan merekapun hidup bahagia selama-lamanya.



Buat minggu ini ga terlalu happy ending. mungkin karena idenya standar dan memang gue pilih yang kategori 'nyeritain ulang dengan gaya sendiri' jadi ya gitu deh .... minggu depan harus lebih ok lagi! semangaaat!











Penpop Ceria #2

Diposting oleh Winda (윈다) di 21.15 0 komentar

Ok. Setelah dua minggu kemarin gue posting tentang deskripsi pengembangan spasi sekarang gue mau posting hasil tulisan gue yang berupa deskripsi pengembangan waktu. jadi gimana caranya lo nulis deskripsi suatu hal dengan melewati perubahan waktu. kalo yang sekarang objeknya sekelas sama semua yaitu taman melingkar. honestly gue ga ada ide sama sekali mau nulis apa karena gue sibuk melototin skripsweet. akhirnya yaaa .... gue nulis seadanya aja yang ada di otak gue. well gue paling ga suka nulis deskripsi. terlalu datar dan ga gue banget hoho. jadi mikirlah gue gimana caranya supaya bisa bikin deskripsi yang agak gue hoho. dan beginilah hasilnya ....

ps: 'aku' disini bukan gue 100% yaaa. ini hanya sebuah bentuk aku yang gue desain supaya agak memberi warna dalam deskripsi ini hehe


oke tanpa perlu berpanjang lebar inilah penpop gue minggu kedua. 


Rinai-Rinai Senja di Taman Melingkar

Bekas-bekas hujan siang tadi masih terlihat membasahi tanah. Aku sudah duduk disitu, taman melingkar. Basah memang. Tapi pasti tidak sebasah hatiku. Kudengar sahabatku akhirnya punya pacar. Senang sekali pastinya. Aku baru saja putus beberapa bulan lalu sementara dia terus mengoceh mengenai calon pacarnya yang sekarang sudah resmi jadi kekasihnya. Sungguh tidak sensitif, pikirku. Sahabat lain yang selalu kuibaratkan sebagai buku harianku juga punya pacar sekarang dan bahkan temanku yang menjadi garda terdepan dalam komunitas jomblo abadi saat ini sedang mendekati target barony. Ah sudahlah, sepertinya hanya aku yang romantika hidupnya sekelabu sore ini haha. Hujan deras mengguyur kota belimbing sejak siang tadi. Derasnya hujan masih meninggalkan jejak dimana-mana. Warnanya coklat atau merah tanah, lengket dan basah. Kita menyebutnya becekan.  Hal yang paling dibenci para petugas kebersihan gedung.
Hari ini aku duduk sendiri di taman melingkar. Aku harus mengerjakan tugas dan taman melingkar adalah tempat yang paling tepat untuk itu. Sebuah pertanyaan menghampiri benakku. Taman ini tidak berbentuk lingkaran namun kenapa semua orang menyebutnya lingkaran? Taman ini mungkin lebih cocok disebut taman segi tujuh karena terdiri dari tujuh sisi tempat duduk berbentuk terasering yang mengelilingi sebuah ruang kosong yang agak lapang di tengah. Setiap sisinya memiliki 4 lapis terasering. Tepat di tengah taman melingkar yang bentuknya bukan lingkaran ini terdapat dua buah pohon besar. Aku tidak tahu pohon apa itu. Satu hal yang bisa aku pastikan pohon ini bukanlah pohon toge ataupun pohon kaktus. Ya, aku berani bertaruh untuk itu. Pohon yang pertama sepertinya sudah berumur. Batangnya sangat besar. Akupun mungkin tak akan sanggup memeluknya. Pohon yang satunya lebih kecil namun tetap berdiri kokoh di tengah taman melingkar itu. Kedua pohon itu berada dalam pot buatan. Bukan, pot ini bukan seperti pot bunga mawar atau bunga matahari yang biasa ada di rumah-rumah. Pot ini berbentuk bulat, sangat besar, dan terbuat dari semen. Tepat di tengahnya terdapat tanah yang menjadi sumber penghidupan sang pohon. Terlihat seperti pot bukan? Ya, pot raksasa tepatnya.
Ciiiiiii ciiiiiiit ciiiiiit. Tiba-tiba terdengar kicauan merdu seekor burung. Aku tidak tahu burung apa itu. Apa mungkin Mockingjay? Burung yang terkenal lewat film Hunger Games? Entahlah. Bekas hujan belum juga kering tapi disana-sini sudah terlihat orang berkicau dengan semangat. Di sebelah kiriku ada sebelas orang laki-laki yang sedang mengobrol dan bercengkrama. Dua diantara mereka sedang merokok sementara yang lainnya sedang mengobrolkan kisah cinta temannya. Wow! Aku merasa seperti sedang menonton silet! Dua orang laki-laki terlihat di sisi kiri di balik pohon besar yang aku ceritakan sebelumnya. Seorang diantara mereka memakai baju kuning dan jaket hitam serta memegang rokok sedangkan temannya sibuk dengan laptopnya. Jauh di belakang mereka terlihat sepotong gedung yang mengapung di atas air. Aula terapung namanya. Gedung berwarna abu-abu itu tidak terlalu terlihat dari tempat dudukku tapi aku sudah pernah kesana. Tak banyak yang bisa diceritakan dari gedung itu selain fakta bahwa gedung tersebut terdiri dari dua lantai dan biasa digunakan untuk seminar atau rapat besar.
Tepat di seberangku ada sekumpulan laki-laki  yang  juga sedang mengobrol dan … lagi-lagi merokok. Asapnya terlihat tebal menodai sejuknya udara sore hari. Ingin rasanya aku ambil seember air dan menyiramkannya pada mereka. Inilah alasan kenapa seorang teman dari Jerman menyebut Indonesia sebagai surga rokok. Mayoritas dari laki-laki itu memakai baju warna putih. Aku tidak tahu apakah mereka simpatisan partai tertentu atau sama-sama membeli baju sepuluh ribu tiga berwarna putih. Tiga buah sepeda berada tepat di belakang mereka. Dua buah sepeda berwarna hitam dan satu sepeda berwarna biru. Ah, sudah seribu tahun rasanya tidak naik sepeda.
Bagian terbaik dari taman melingkar aku rasa ada di seberangku atau tepat di belakang lokomotif rokok berbaju putih tadi. Banyak yang menyebutnya danau balairung namun berdasarkan yang aku baca danau tersebut bernama danau Kenanga. Seperti halnya musim mangga, danau ini juga memiiki kecantikan yang musiman. Jika Anda beruntung, Anda akan melihat danau itu bersih tanpa sampah dengan sedikit gelombang hasil hembusan angin. Namun, jangan kaget jika suatu saat anda melihat tumpukan plastik, kulit buah hingga bekas botol ada di danau itu. Aku tidak tahu darimana asalnya. Sebuah bangunan besar terlihat megah berdiri di tepi danau. Balairung namanya. Gedung ini adalah gedung serbaguna yang biasa digunakan untuk acara-acara besar di UI. Balairung berwarna abu-abu dan memiliki atap berundak berwarna merah. Sebuah bentuk atap khas Indonesia menurut buku sejarah SDku. Balairung bertambah megah sejak dilengkapi dengan gedung baru yang langsung menjorok ke arah danau. Aku pernah kesana dan dapat aku katakan bahwa pemandangan disana adalah pemandangan terbaik diantara semua tempat yang ada di Universitas Indonesia.
Matahari sore ini seperti jodoh masa depanku. Entah ada dimana dan entah sedang apa. Tak terlihat sedikitpun bentuknya yang bulat berkilau nan indah itu. Mungkin tertutup awan, sisa hujan siang tadi. Perlahan malampun mulai menyapa. Lantunan azan maghrib berkumandang dan angin berhembus memainkan rambutku. Hasil temuan Thomas Alva Edison satu persatu muncul dan menerangi malam. “Hahaha” gelak tawa tiga orang perempuan yang sedang berkumpul di sisi kanan mengagetkanku. Baiklah, hanya aku saja sepertinya yang duduk sendirian disini. Tak ada teman, sahabat apalagi kekasih. Tiba-tiba handphoneku berbunyi. Sebuah pesan dari whatsapp muncul di layar. Aku membuka dan membacanya. Ternyata sebuah pesan bergambar dari grup CEDS, unit kegiatan mahasiswa (UKM) yang aku ikuti. Sebuah gambar  berupa gabungan dari beberapa foto dengan kata-kata yang cukup menohok muncul di layar handphoneku

“Truk aja punya gandengan. Kok situ nggak?”
“ATM aja bisa bersama, masa kita nggak?”

Terima kasih CEDS, terima kasih banyak looh! Belum habis kesalku tiba-tiba ada yang jatuh di kepalaku. Kontan akupun berteriak. Untungnya bukan burung iseng yang mengeluarkan kotorannya melainkan tetesan air bekas hujan siang tadi. Tak terbayang rasanya harus keramas malam-malam karena terkena kotoran burung. “Ting” sebuah notifikasi muncul di layar laptopku. Apalagi ini? pikirku. Ternyata sebuah notifikasi bahwa laptopku sudah kehabisan energi. Baiklah, sudah waktunya pulang. Akupun mematikan laptop, merapikan barang-barangku dan bergegas pulang dengan sejuta kesal di dada.



Dan happy ending dari cerita ini adalah .... dapet hadiah dari pak Daniel hehe




 

Wince Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review