Senin, 21 Juli 2014
Minggu, 11 Mei 2014
Dari kosan wiwid
Jadi
ini cerita paling ga penting dari semua cerita ga penting gue lol. Gue udah
mengingatkan bahwa ini ga penting dan kalau anda masih mau baca ya silahkan. Ini
adalah kejadian yang gue alami sekitar dua jam yang lalu. Jadi ceritanya hari
ini pas lagi nyekrip tiba-tiba dapet wa dari wiwid. Wiwid nanya gue masih butuh
scanner atau ga (sungguh wiwid bagai bidadari yang turun dari khayangan langit
ketujuh banget :D) dan karena gue masih
butuh jadilah hari ini gue ke kosan wiwid buat ngescan komik tersayang a.k.a
korpus skripsi gue. Setelah asikasik ngescan dan ngerumpi unyu bareng wiwid, gue
mau pulang. Dan rangkaian keberuntungan inipun dimulai ….
Ketika
gue mau pulang ternyata hujan. Karena payung adalah benda yang wajib gue bawa
kemana-mana gue ga begitu khawatir. Tapi kemudian gue sadar bahwa gue mesti
naik ojek untuk mencapai kutek. Dan semaju-majunya teknologi belum ada
teknologi yang bikin motor punya atap, pake ac apalagi ada TVnya. Jadilah gue
sadar bahwa gue akan bermandikan air hujan sampe kutek *ngeek*
Wiwid
udah nyuruh gue nginep. Tapi karena didorong gairah untuk pulang ke kosan
akhirnya gue nekat pulang. Dan Alhamdulillah ujannya manis manja, cuma tetes
tetes gitu deh. Akhirnya gue menyisir pinggiran margonda untuk sampe ke stasiun
UI. Sepanjang jalan gue ga mikir apa-apa. hemhh sasaran empuk banget buat
dihipnotis. Tapi ga ada untungnya juga sih hipnotis gue. Rekening gue isinya
min sekian ribu lol
Pendek
kata akhirnya gue sampe di sekitaran rel kereta api. Dingin kak. Ga heran lah ya,
namanya juga lagi ujan. Karena gue a little bit trauma sama rel sebelah situ
jadi gue agak mundur dan menjauh sedikit dari tempat nyebrang rel. Saat itu ada
dua kereta dari dua sisi jadi agak lama juga nunggu buat bisa nyebrang. Gue ga
berani nyebrang sampe kedua kereta bener bener udah lewat. Pas lagi nunggu gitu
tiba-tiba ada mbak mbak lagi gandeng lengen mas mas (saat itu gue mencoba
menghibur diri, oh kakaknya kali). Selang beberapa detik setelah itu seorang
cewek dan cowok yang lagi gandengan tangan tiba-tiba dateng dan berdiri di
depan gue. Hemhh oke, kece banget nih. Dalam hati mau mikir bahwa itu mungkin
om sama keponokan atau sahabat sangat karib yang bahkan ga bisa, ga rela dan ga
sanggup untuk ngelepas tangan sahabatnya pas lagi jalan bareng lol. Beberapa detik
setelahnya ( bener-bener cuma beberapa detik setelahnya, mungkin lebih cepet
dari suara kentut) muncul lah seorang cewek dan cowok. Tau cowoknya ngapain?
Ya~ bawa payung, mayungin si cewe. Mereka muncul, berdiri di hadapan gue dengan
indahnya, dan memadu kasih di bawah payung ungu, pinggir rel kereta api dan di
hadapan gue yang lagi laper, bawa tas berat dan sendirian. Pasangan pertama, si
mbak yang gue harapkan adalah kakak beradik itu ternyata mengubah posisi jadi
rangkul rangkul unyu. Dengan begini resmi sudah bahwa mereka bukan kakak ade. HAHAHA
. Dosa apaaaaa aku ya Allah malem-malem dikasih pemandangan indah nan rupawan
begini -_______-
Sudah
selesai? Oh belum kaka~ Setelah berhasil nyebrang dari sekian detik penuh makna
itu, akhirnya gue manggil satu ojek. Dan abang ojeknya kayanya emang udah siap
siaga. Begitu gue nunjukin angka 1 doi langsung nyalain mesin. Layaknya orang
waras lainnya, setelah manggil abang ojek hal yang gue lakukan pasti adalah
naik ojeknya dong ya? Tapi pas gue naik dan duduk, gue baru sadar …….. bau ini ………..
gue kembali tertawa dalam hati. Ini bau yang sangat gue kenal. Ini bau mantan
gue. Biar misterius sebut aja mantan gue itu si udin (gimana? misterius kan?
lol). Jadi sepanjang jalan, beratapkan langit dan hembusan angin malam
yang menggerayangi seluruh tubuh …. Gue nyium bau itu orang. Iya itu, si mas
udin itu lol. Entah minyak wanginya yang sama atau bau bau laundrynya yang sama
yang jelas itu bau si mas udin. Gue positif banget (apa?? lo mau nyuruh gue
move on? Yang move on itu hati gue, bukan idung gue. Jangan salain idung gue
yang lebih oke dari HD 1 tera karena masih nyimpen data bau si mas udin lol)
Biasanya
kalo udah malem begitu dan mesti naik ojek, gue akan naik ojek sampe depan
kosan. Tapi berhubung bau abang ojek ini menggangu sekali (alesan, padahal mau
hemat duit lol) akhirnya gue hanya berhenti di depan pintu kutek. Gue pun
berjalan masuk ke kutek. Tiba-tiba dari dunia kegelapan (sumpah, depan pintu
kutek itu gelap sis) muncullah dua ekor manusia lagi naik motor. Satu mbak mbak
itu tiba-tiba ngagetin gue dengan suara ampli khas orkes dangdutnya itu.
“WINCE!”
Gue yang
masih bergulat dengan pikiran kenapa-si-abang-ojek-itu-bau-mas-udin tiba-tiba
kaget dan sepersekian detik baru sadar bahwa mbak mbak dari dunia kegelapan
dengan kerudung item itu adalah irna. Makasih kaka irna udah jadi happy ending
dari cerita sore gue yang banjir kebahagiaan ini -____-
![]() |
| @followyourart (loveamongotherthings.wordpress.com) |
Jumat, 09 Mei 2014
Penpop Ceria #6
Ahahaha ini dia. Cerpen gue yang paling alay. Judulnya aja alay banget hihi. 암튼 sepertinya gue berhasil melakukan "copy the master". Nilai gue naik sedikit dengan cerpen ini. Ini cerpen risetnya lumayan. Gue segala mesti cari info tentang tempat melamar terbaik di new york ahaha. Ga ada komentar dari bapaknya menandakan bahwa cerita gue ini biasa banget dan ga ada yang mesti dikomentarin. Sedih ahaha. Baiklah silahkan dinikmati
“Apa ayah pernah menghubungi tante Meldira lagi sejak itu?”
![]() |
| internet-infoku.blogspot.com |
Es Krim Rasa Cinta
Rian masih menjilat-jilat tangkai es
krim itu. Tak ada sedikitpun bagian yang luput dari jilatannya. Senyum puas mengembang di wajahnya. Sementara
itu kakaknya Carisya masih asik dengan cone
es krim di tangannya. Sisa es krim masih membekas di sekeliling mulut gadis
berpita merah itu. Namun, ia tak peduli. Sekilas orang mungkin akan mengira
bahwa mereka belum pernah makan es krim dari lahir. Mereka makan dengan begitu
lahapnya sehingga tidak sempat melihat wajah ayahnya yang tersenyum melihat tingkah
laku dua bocah cilik itu. Bagi mereka, es krim adalah segalanya. Sama seperti
ayahnya yang selalu menganggap kedua bersaudara itu sebagai bagian terindah
dalam hidupnya.
“Ayah,
ini enak sekali! Aku suka es krim rasa ini.” ujar Rian
“Begitukah?
Bagaimana dengan es krim yang tadi pagi?”
“Hemhh,
aku lebih suka es krim ini yah.”
“Kalau
kamu bagaimana sayang?” tanyanya lembut pada gadis semata wayangnya itu.
“Hemhh,
aku suka yah es krim yang ini. Ada rasa blueberry dan sedikit coklat serta ada
rasa buah kecut lainnya. Aku tidak tahu apa tapi itu sangat enak yah, sungguh
aku rasa ini es krim paling enak yang pernah Ayah buat.”
Ayahnya
hanya tersenyum. Ia tahu bahwa Carisya memiliki bakat luar biasa dalam mengecap
makanan. Gadis mungil itu bisa mengetahui dengan rinci bahan dan teknik pembuatan
sebuah makanan hanya dengan mencicipinya
Laki-laki itu lantas menghampiri
tumpukan kardus di sudut ruangan. Diangkatnya beberapa kardus dan dibukanya. Carisya
datang menghampirinya dan ikut membuka kardus lainnya. Sebuah sweater rajut,
gantungan unik berbentuk boneka pasangan yang terbuat dari serabut kelapa dan
tutup cup es krim berwarna pink yang ditaruh dalam bingkai kecil berwarna hitam
menarik
perhatiannya.
perhatiannya.
“Waaah,
ayah ini lucu sekali. Tapi ini kenapa ini ditaruh dalam bingkai?”
Laki-laki
muda berkacamata itu lantas membalikan badannya. Ia tersentak melihat benda di
tangan Carisya. Ia terdiam. Pikirannya menerawang jauh ke masa lalu … sebuah
masa penuh kenangan.
Burung-burung berkicau menyapa hari.
Bermain-main dengan hembusan angin. Satu dua kerbau mulai berjalan di atas
hamparan sawah hijau. Gunung biru berdiri kokoh di belakang mereka. Tiga anak itu berlari menghampiri sebuah
danau. Dua dari mereka adalah laki-laki.
“Aku
luluuus.” teriak seorang anak
“Aku juga
luluuuus.”teriak anak lainnya
Sementara
itu, satu anak lainnya hanya tersenyum melihat tingkah laku kedua temannya.
“Setelah
ini aku akan pergi ke Bandung untuk melanjutkan SMA.” ujar salah seorang anak
“Aku juga
akan pergi ke Jakarta, ikut kakakku.” sahut si gadis.
Anak
laki-laki yang hanya tersenyum itu tersenyum dengan lebih lebar
“Mas,
kamu akan melanjutkan sekolah disini?” tanya si gadis
“Hemhh,
aku belum tau fa. Bahkan, aku belum tau aku bisa sekolah atau tidak.” sahutnya
Hari demi
hari berlalu. Tibalah hari saat Alifa dan Azwar harus pergi ke kota untuk
melanjutkan pendidikan. Alifa memberikan sebuah sweater rajut pada Dimas
temannya.
“Mas, aku
mungkin akan pergi dalam waktu yang cukup lama. Kakakku berniat menguliahkan
aku di Jakarta. Entah kapan aku akan kembali. Ini untukmu. Aku rajut sendiri
dari tahun lalu hehe.”
Dimas
tak sanggup berkata apa-apa. Ia, Alifa dan Azwar adalah teman dekat sejak
kecil. Tak pernah satu haripun mereka lewati tanpa bermain bersama. Alifa
adalah orang spesial bagi Dimas. Sayangnya Dimas tidak pernah tahu apakah
dirinya juga berarti sama di hati Alifa. Dimas mengantar kepergian dua temannya
itu hingga ke terminal. Mereka berjanji bertemu lagi empat tahun dari sekarang.
Beberapa hari setelah kepergian
kedua temannya, Dimas mulai melamar pekerjaan. Ia tahu keadaan keluarganya
tidak memungkinkan dirinya melanjutkan sekolah. Ia hanya tinggal bersama
ibunya. Ayahnya sudah meninggal beberapa tahun lalu akibat sakit jantung. Dimas
tak punya kakak ataupun adik. Ibunya yang awalnya adalah buruh tani di sawah
ayah Alifa sekarang tak sanggup lagi bekerja karena penyakit yang dideritanya. Pabrik
tahu babah Acong menjadi harapan Dimas. Ia berjalan menghampiri masa depannya.
Babah Acong langsung menyambut Dimas. Pemuda itu lantas mengutarakan niatnya
untuk bekerja di pabrik tahu tersebut. Babah Acong merasa sedih mendengar Dimas
tak bisa melanjutkan sekolah karena masalah finansial yang diderita keluarganya.
Dimas berterima kasih pada babah Acong yang mau menerimanya. Sepulangnya dari
pabrik ia kembali berjalan menghampiri danau. Kali ini ia hanya sendiri. Tak
ada Alifa yang ceria atau Azwar yang cerewet. Tiba-tiba sebuah benda dingin
menyentuh kulitnya. Ia kaget. Seorang gadis berambut ikal sebahu dengan mata
coklat tersenyum padanya. Tangan mungilnya menjulurkan sebuah cup bulat. Ah, es
krim rupanya.
“Hai, gue
Meldira. Lo Dimas kan?”
Dimas hanya diam menatap curiga
pada gadis itu.
“Tadi gue liat lo ke pabrik kakek
gue. Gue cucunya kakek Acong.”
“Oh ya, halo. Maaf ya. Aku kaget
tiba-tiba ada orang yang belum aku kenal menyapaku.” ujar Dimas.
“Gak apa-apa. Ini cobain deh.”
Dimas menerima es krim pemberian
Meldira. Es krim itu begitu lembut. Rasanya begitu manis dan segar.
“Danau ini cantik ya.”
“Iya aku kesini tiap kali aku
merasa sedih dan kesepian.” sahut Dimas
Meldira tersenyum melihat teman
barunya itu. Sejak itu mereka sering bermain bersama. Mereka membicarakan
banyak hal. Dimas sering menceritakan cerita hantu yang berkembang di
daerahnya. Meldira walaupun seorang anak kota namun sangat rendah hati. Ia
tidak pernah malu bermain di danau, becek-becekkan di sawah atau memanjat
pohon. Ia juga sering menceritakan Dimasi berbagai tempat indah di dunia. Tahiti,
Busan, New Zealand dan Utrecht. Mengobrol bersama Meldira membuat Dimas merasa
berkeliling dunia. Tidak terasa Dimas mulai melupakan kesedihannya berpisah
dengan kedua temannya.
Suatu
hari Meldira mengajak Dimas bertemu di danau. Dimas tahu ia terlambat. Ia
mempercepat langkahnya. Hari ini Meldira tampak begitu cantik dengan rok merah
dan jepit warna senada di rambutnya. Begitu melihat Dimas, gadis itu langsung
tersenyum
“Hei, mas. Darimana aja?”
“Maaf ya, aku baru selesai kerja.
Tadi ada beberapa tahu yang harus dikemas dulu. Besok harus dikirim ke Jakarta.”
Meldira menyodorkan es krim lagi
“Mel, besok ada pasar malam. Kita
kesana yuk.” ajak Dimas
Meldira terdiam. Ia hanya menatap
es krimnya
“Mas, besok gue harus pulang.” ucapnya
sedih
“Oh gitu. Gak masalah. Nanti kapan-kapan aku main deh ke Jakarta.” Ujar Dimas
“Aku gak pulang ke Jakarta, mas.”
“Oh gitu, Gak masalah. Aku juga punya teman di Bandung. Mungkin kapan-kapan
aku bisa mengunjungimi.”
“Mas … Gue akan pulang ke New
York.”
Dimas terhenyak.
“New York …? Amerika maksudmu?”
“Iya, Amerika. Kedua orang tuaku
tinggal disana.”
“Hemhh, jadi kita …”
“Mungkin ga akan ketemu lagi.” potong
Meldira
“Lo tau mas, kenapa gue suka
makan es krim? Es krim itu seperti cinta. Jika kau tak jaga maka ia akan
meleleh, mencair dan hilang. Karena itu, tiap orang harus menjaga es krimnya
masing-masing dan melindunginya semaksimal mungkin dari paparan sinar matahari.”
jelas Meldira panjang lebar
Dimas tak mampu berkata-kata. Satu
bulan pertemuannya dengan Meldira seperti musim semi baginya. Ia tidak pernah
sedih dan tidak pernah kecewa lagi pada nasibnya. Ia bahkan punya mimpi
sekarang.Hari itu menjadi hari terakhir pertemuan Dimas dan Meldira. Dimas
kehilangan satu lagi teman baiknya.
Beberapa bulan kemudian babah
Acong memanggil Dimas. Ia terlihat serius
“Mas, apa kamu mau jadi tukang
tahu terus?”
“Tentu tidak, bah.”
“Kamu punya mimpi?”
“Tentu bah, saya punya punya
cita-cita.”
“Apa itu?”
“Saya ingin punya pabrik es krim.
Saya mau memberikan kebahagiaan pada semua orang.” ujar Dimas mantap
“Hemhh, begitu ya. Baiklah,
bagaimana jika kamu saya sekolahkan? Pabrik es krim ya, hemhh. Mungkin cocok
jika kamu belajar teknik industri atau teknik kimia. Tapi, jangan belajar di
Indonesia. Belajarlah ke luar negeri. Selain bisa mengembangkan bahasa asing,
kamu juga bisa lebih survive dan punya networking yang luas.” ucap babah Acong
Dimas hanya bisa melongo. Ia
tidak menyangka mendengar ucapan babah Acong.
“Mengenai biaya nanti babah yang
urus. Babah tahu kamu pintar, sayang kalau hanya menjadi tukang tahu. Loh, loh itu kenapa kamu melotot begitu?
Gak suka sama ide babah?” ucap babah
Acong heran
“Bu .. bukan begitu bah. Saya
hanya kaget dan tidak menyangka” ujar Dimas
“Karena itu ayah kemudian kuliah
di University of Hawaii?” tanya Carisya
“Yap.”
“Dan bertemu dengan tante Adisti
disana?”
“Tepat. Oh iya, gantungan boneka
itu dari tante Adis loh. Kamu lihat kan mereka punya kaki. Katanya, kalau kamu
kaitkan kakinya seperti ini, kamu bisa hidup bersama orang yang kamu sayangi.” jelas
Dimas
“Apa ayah pernah menghubungi tante Meldira lagi sejak itu?”
“Ayah selalu berkirim surat
dengan tante Meldira. Bahkan ayah pernah pergi ke New York untuk bertemu dan
mengabarinya bahwa ayah akan bertunangan dengan tante Adisti. Well, Meldira gak pernah pulang ke
Indonesia. Katanya ia sibuk. Bahkan kami sudah berhenti berkirim kartu pos
lagi. Padahal dulu dia gak begitu.”
Tergambar raut kesedihan di wajah
ayahnya. Carisya sekarang tahu apa makna tutup es krim itu.
“Ayah, kenapa ayah gak pernah menikah dengan tante Adis?”
“Hemhh, mungin ayah belum siap.
Entahlah, ayah merasa belum siap saja.”
“Dari sepuluh tahun yang lalu?”
“Hemhh, yaaah … begitulah.”
“Ayah, ayo kita ke New York.”
“He? New York? Mau ngapain?”
“Ketemu tante Mel. Kita ambil es
krim ayah” ujar Carisya sambil tersenyum
“Ta … tapi.”
“Ayah, waktu ayah mengambil aku
dan Rian dari panti asuhan, aku merasa itu adalah hari terbaik dalam hidupku. Aku
merasa hujan es krim setiap hari. Tante Adis baik. Sangat baik. Tapi, ia bukan
es krim ayah. Ayo ayah, kita jemput es krim ayah.”
New York, 21 April 2015
Angin
lembut menyapa malam. Carisya dan Rian tersenyum. Baru pertama kali mereka
pergi ke New York. Dimas duduk. Diam, kaku tak bergerak. Hatinya serasa mau
loncat. Sudah lima kali ia bolak-balik ke kamar mandi. Ketiga orang itu memang
sengaja datang setengah jam lebih awal dari janjinya. Tiba- tiba seorang gadis
berambut ikal dengan senyum menawan datang menghampiri meja mereka. Gadis itu
memakai gaun brokat berwarna peach dengan rok sutra selutut berwarna kulit. Cantik
sekali. Ia tersenyum manis seraya mengatakan
“Hai, mas? Apa kabar. Ya ampun,
siapa ini lucu banget.”
“Hai, mel. Ehm, ini … anakku.
Carisya dan Rian.”
“Anak adopsi kok, tante.” timpal Carisya
“Halo, haloo. Aku Meldira.”
Mereka terlarut dalam
perbincangan hangat di pinggir sungai Brooklyn. Dimas dan Meldira membuka
kenangan mereka satu persatu sementara Carisya dan Rian asik bermain di pinggir
sungai. Pantulan cahaya malam menambah spektakulernya pemandangan kota yang
dijuluki kota tak pernah tidur itu. Ditemani alunan biola, The River Café
menjadi tempat paling romantis di seantero New York.
Dimas mengulurkan tangannya.
Memberikan sebuah es krim pada Meldira.
“Oh, wow. Ini es krim baru ya di
Indonesia?”
“Iya, itu es krim buatan
pabrikku.”
Meldira tersenyum. Ia lantas
membuka tutup es krim cup itu.Matanya terpana. Dunia terasa seakan berhenti.
Tidak seperti es krim lainnya yang berwarna putih, pink atau coklat, es krim
itu memperlihatkan warna yang berbeda. Sebuah benda bulat bertahtakan permata
duduk manis di dalamnya.
“Mel, aku tahu aku terlambat. Aku
tidak pernah menikah dengan siapapun karena aku tidak pernah menyadari bahwa
aku jatuh hati pada seorang gadis yang memberikanku es krim, yang membawaku
berpetualang ke Busan, Utrecht, New Zealand dan kota-kota indah lainnya. Aku
terlalu bodoh untuk menyadari bahwa tidak ada satupun es krim yang aku buat
dengan tanpa mengingatmu. Aku …
“Lama banget Iya aku mau. Aku mau jadi temanmu hari ini, tiap pagi,
siang, malam dan tiap detik lainnya. Iya aku mau melihat Carisya dan Rian
menemukan cinta sejatinya. Iya aku mau melihat rambut putihmu dan kerut kerut
di wajahmu.Ya, aku mau.” ootong Meldira sambil tersenyum.
Bintang di langit berkelap kelap
indah. Hembusan angin musim semi berpadu dengan bisingnya kota di kejauhan.
Dimas merasa New York hujan es krim hari itu
Selasa, 29 April 2014
Penpop Ceria #5 : Life is a Boom Bust Cycle (2)
Here it is ... Another cerpen gagal gue yang dapet nilai jelek dari bapake. Padahal ini uts yang jelas jelas bobotnya ... aaah sedih haha. Tapi ya sudahlah. Teguran juga mungkin untuk ga ngerjain tugas mepet mepet deadlinenya. Ini adalah tulisan tercepat yang gue hasilkan. Hanya dalam waktu dua jam saudara saudara! Waktu itu gue lagi konsentrasi penuh benerin bab 2 sambil toel toel bab 3. Jadi ya begitulah, gue kurang ngasih perhatian sama matkul satu ini. Hampir ga ada editing lol. Kata mba tici ini kaya cerita FTV wew. Entahlah ... but honestly, ini adalah tulisan yang gue bikin dengan perasaan paling bahagia. Berasa nulis blog waktu bikin cerpen ini haha. Baiklah silahkan dinikmati
Serabi Hollywood
Aku pusing. Pusing dan sangat pusing. Bukannya aku
tidak rela memberikan uangku untuk Delia dan ibunya. Toh delia juga tidak
memintaku untuk membantunya. Tapi hati nuraniku yang menyuruhku demikian. Masih
teringat jelas di benakku, wajah Delia yang layu dan tatapannya yang kosong.
Sebuah notifikasi muncul di layar. Ada pesan dari Maman.
“Bro kita berangkat dari Bandung besok
jam 5 pagi. Maneh[1]
teh udah siap ya jemput kita di stasiun.”
Aku menghela nafas. Sebuah kekecewaan muncul di
dadaku. Aku memiliki tiga sahabat bernama Dadang Sudadang, Maman Sumaman dan
Adri Bahsyah. Kami ini bisa dikatakan sebagai F4nya Indonesia. Masih ingat F4
kan, pastinya? Kumpulan empat cowok tampan dalam sebuah serial drama Taiwan
terkenal bernama Meteor Garden. Anda percaya? Tidak? Bagus … percayalah pada
Tuhan, jangan pada kami. Kami selalu melakukan segala hal bersama. Main,
belajar, hingga berjalan-jalan. Kami juga memiliki selera yang sama mulai dari
klub bola hingga band idola. Sayangnya, kebersamaan kami mulai dilanda badai
saat mendekat hari kelulusan SMA. Dadang dan Maman mantap melanjutkan
pendidikan di kota kembang, Adri berkelana ke timur jawa dan aku berkelana ke
Depok. Konser Maroon 5 ini menjadi momentum kembalinya kebersamaan kami. Kami memang
sudah menyukai Maroon 5 sejak SMP karena itulah kami sudah mulai mencari uang
dan menyisihkan uang jajan untuk bisa menonton konser band yang digawangi Adam
Levine itu suatu hari. Setelah melewati penantian panjang, keinginan kami
tercapai. Bulan Juni lalu sebuah promotor musik ternama di Indonesia. Betapa
gembiranya kami semua.
Hari ini adalah hari yang telah kami sepakati
bersama untuk membeli tiket Maroon 5 langsung dari kantor promotor yang
mendatangkan band ternama itu.Namun, sebuah hal yang tidak pernah aku pikirkan
sebelumnya terjadi. Delia, teman yang sejak dulu menyiksaku dengan menjulukiku
anak ambu mengalami sebuah musibah. Ayahnya yang merupakan anggota DPR
ditangkap KPK dan ibunya masuk rumah sakit karena diabetes. Aku tidak sengaja
bertemu Delia ketika ia sedang berada dalam perjalanan ke rumah sakit. Tidak
seperti biasanya, wajah Delia layu dan tatapannya kosong. Aku khawatir dan
mengikutinya ke rumah sakit. Aku baru tahu kalau ibu Delia masuk ke UGD setelah
sempat shock dan kadar gulanya
menurun drastis karena suaminya ditangkap KPK. Hal yang lebih parah adalah Delia
merupakan anak tunggal dan seluruh asset dan tabungan keluarganya dibekukan
KPK. Ia tidak punya uang sama sekali untuk membayar pengobatan ibunya. Temanku
ini begitu bingung. Paman dan bibinya sudah meminjamkan uang hingga sepuluh
juta namun ia masih memerlukan sekitar 1,5 juta lagi untuk memenuhi biaya
pengobatan ibunya. 1,5 juta … ya, jumlah yang sama dengan tiket konser kelas festival
Maroon 5. Aku bimbang. Aku bukan berasal dari keluarga kaya karena itu aku
menabung dari dulu untuk bisa membeli tiket konser Maroon 5. Sekarang
pertanyaannya adalah tegakah anda melihat teman anda yang selalu ceria
tiba-tiba ditimpa musibah dan berubah seratus persen? Hari itu menjadi menjadi
akhir pengharapanku menyanyikan she will
be loved bersama Adam Levine.
Aku
tersadar dari lamunanku. Aku buka handphone
dan mengetik sebuah pesan untuk Maman.
“Man,
maaf ya. Urang teh kayaknya ga jadi
nonton Maroon 5.”
Beberapa
menit kemudian datanglah telepon dari Dadang.
“Sep,
maneh seriusan ga jadi nonton Maroon
5? Maneh teh udah gila ya?” hardik
Dadang
“Urang[2]
serius dang. Uang urang habis buat
bantuin pengobatan ibu temen urang.”
Sesaat
hening. Lalu muncul suara Adri.
“Tapi
ini Maroon 5 Seeeep, Maroon 5! Kamu teh tega pisan.”
“Maaf
ya, tapi kalian masih bisa kok nginep di kos urang. Nanti urang anterin juga ke
kantor promotornya.”
Kata orang sahabat itu seperti daki, menempel erat
dengan tubuh. Seperti itulah F4 cabang bandung alias sahabat-sahabatku ini.
Mereka tetap datang ke Jakarta. Namun, bukan untuk menonton Maroon 5 melainkan
menemaniku menghabiskan malam saat ribuan M5 menyanyikan payphone di JCC. So sweet, ya?
“Eh
eh eh liat deh.” ucap Dadang
“Apaan
Dang?” sahutku
“Ini
ada lomba bisnis dengan hadiah utama mewakili Indonesia di ajang lomba
internasional yang akan diadakan di Stanford University, Amerika!” jawab Dadang
“Ya,
terus kenapa emangnya Dang?”
“Duuh
kalian ini gimana sih? Sekarang urang tanya. Stanford teh dimana?”
“Berlin.”
celetuk Maman
“Yee,
sejak kapan? Yang bener teh di Tokyo hahaha” sahut Adri sambil melakukan tos
dengan Maman.
“Heeuh
dasar anak gila maneh teh! Stanford itu di California.”
Adri
yang sedang mengobrol dengan pacarnya melalui BBM dan Maman yang sedang sibuk main
game online tiba-tiba menghentikan aktivitasnya begitupun aku.
“California??
Beuuh basecampnya Maroon 5 dong!”
“Ya
makanya. Terus ini liat deh. Peserta yang lolos akan mengikuti lomba dari
tanggal 3-4 April. Seluruh biaya akomodasi dan tiket pesawat ditanggung
penyelenggara. Peserta juga diperbolehkan melakukan city tour dengan tujuan
bebas pada tanggal 5 April. Nah coba cek man, ada nggak konser Maroon 5 tanggal
5 April.” Perintah Dadang
Maman
pun langsung membuka browser setelah
mendengar komando Dadang.
“Ada
dang tapi di Hollywood jam 7 malam.”
“Nah
ga masalah, Hollywood teh kan masih di California jadi masih memungkinlah untuk
dijangkau. Artinya kita masih bisa nonton konser Maroon 5.”
“Nonton
Maroon 5 di Amerika?? Gratis pula! Waaah! ” ucap Adri berapi-api
“Itu
juga dengan catatan kalo kita ikut lomba ini dan menang di tingkat nasional.”
Jelas Dadang
“Ga
masalah dang. Kata abah saya teh ada seribu jalan menuju Hollywood!”jawab Maman
“Ok,
jadi udah deal ya kita bakal ikut lomba ini. Masalahya teh sekarang kita mau
buat produk atau jasa apa nih buat lomba ini?”
“Tongtip
bro! Tongkat ngintip. Jadi ini teh inovasi dari tongsis, tongkat narsis yang
biasa dipake ABG ABG itu buat selfie[3].
Gunanya adalah ya .. untuk ngintip hahhaa” celetuk Adri ringan
“Wah
kalo gitu urang konsumen pertama deh
dri hahaha.” timpal Maman semangat
“Heiishh
dasar kalian teh otak mesum.” Hardik
Dadang
“Serius
dong … jadi apa nih? Nggak mungkin serabi
kan?” omelku
“Eh
tapi bisa juga sih sep. Asal
serabinya kita kasih inovasi. Jadi bukan serabi biasa.”
“Inovasinya
gimana? Serabi mah gitu-gitu aja kali
Dang. Masa mau dikasih es krim atau potongan daging gitu? Maneh teh aya-aya wae[4]” ucap
Maman
“Eh
eh! Itu juga bisa! Jadi serabinya kita bikin lebih tipis terus diselipin es
krim di dalemnya. Nah, untuk adonan dan semacamnya kan ada Asep Sukasep nih
yang ambunya adalah expert dalam biang perserabian. Gimana sep? Memungkinkan ga
sep kalo kita bikin produk kaya gitu?”
“Ya
memungkinkan aja sih. Seperti kata Dadang tadi, serabi ini kita bikin lebih
tipis. Nah, supaya bisa diberi isi kita buat dua lapis nanti teh kita bisa cari
adonan pelekatnya. Buat isian juga kita bisa isi saus buah seperti saus
strawberry, blueberry dan bahkan saus duren. Ide si maman tadi the bagus juga.
Jadi serabinya bisa kita kasih topping
daging atau jamur dan di dalamnya kita masukin keju Mozarella. Jadi pas digigit
bleesss”
“Dan
serabi ini kita buat supaya bisa dikemas juga. Jadi lebih praktis dan bisa
dibawa kemana-mana. Nanti kemasannya saya yang desain. Bisa kita masukin motif
batik atau pesan-pesan budaya lainnya”
“Siiip!
Udah oke banget nih ide kita. Masalahnya sekarang cuma satu.”
“Apa
tuh dang? Tanyaku
“Ini
proposalnya kan harus dibuat dalam bahasa Inggris, nah kalian ada nggak yang
bisa nerjemahin proposal.”
“Waduuuh,
berat mainannya bahasa Inggris. Maneh kan tau sendiri dang, urang hampir
diputusin si pira gara-gara ga bisa ngomong ‘ep’. Jangankan cas cis cus bahasa
Inggris, ngomong ‘ep’ aja urang setengah mati.” Sahut Maman
“Urang
teh bisa tapi ya ga jago.” Jawabku
“Dang,
ulah ngaliat ka urang. Urang teh hampir ga lulus UN gara-gara bahasa Inggris.”
jawab Adri
“Tok-tok-tok”
Tiba-tiba
ada yang mengetuk pintu kamarku
“Ya
sebentar …” sahutku
“Sep,
ada yang nyari kamu tuh di depan.” ucap Dimas, teman satu kosku
“Oh,
makasih ya mas.”
Aku langsung keluar untuk menyambut tamuku.
Aku membuka pintu dan tiba-tiba terlihat sosok yang tak asing bagiku.
“Eh,
Delia. Ada apa, ya?”
“Aseep.
Gue kesini buat ngucapin terima kasih sama lo karena kemarin lo udah bantuin
biaya administrasi nyokap gue. Gue denger dari Lita katanya itu uang buat
nonton konser Maroon 5 ya? Duh, maaf banget ya. gue jadi ngerepotin lo dan maaf
juga gue belum bisa balikin uang lo. Seperti yang lo tau semua tabungan gue
dibekuin sama KPK gara-gara kasus bokap gue.” ucap Delia panjang lebar.
“Gapapa
del, gue udah ikhlasin kok ga nonton Maroon
5 tahun ini. Mungkin emang belum rejeki gue hehe.”
Tiba-tiba pintu terbuka. Dadang, Maman dan Adri
jatuh tersungkur di depan pintu. Rupanya tanpa aku sadari mereka mencuri dengar
sambil mengintip dari tadi. Mereka bertiga hanya bisa tersenyum malu di depan
Delia.
“Heh
ngapain? Bikin malu aja kalian teh! Nih kenalin teman urang. Delia namanya.”
“Halo,
gue Delia tapi biasa dipanggil jelo.”
“Jelo?
Pasti nama depannya mau tau a … mau tau aje lo. Hahaha.” canda Adri
“Jelo
itu kalo kita mau ke warung pak Kusno dari rumah Adri. Lurus .. jelo kanan …
terus jelo kiri hahaha. timpal Maman
“Itu
belok bro! BELOK!” amukku.
“Saya
Dadang, ini teman saya Adri dan Maman.”
“Eh,
Delia teh jago bahasa Inggris ga?” tembak Adri
“Hemhh,
lumayan bisa sih. Dulu gue pernah tinggal di Aussie waktu SMA.”
“Wuiiih
canggih! Itu mah bukan jago lagi namanya.”
“Delia,
sorry to say nih, tapi Delia mau bantu kita ga nerjemahin proposal bisnis?”
tanya Dadang sopan
“Boleh
kok, boleh banget. Gue juga tertarik sama bisnis”
“Atau
gimana kalo Delia gabung di tim kita? Jadi gini, kita mau ikut lomba bisnis dan
anggota tim maksimal adalah lima orang. Nah kayaknya bakal lebih seru kalo
Delia gabung di tim kita.” celetuk Maman
“Wah,
asiik! Makasih ya udah diajak.” jawab Delia.
Hari itu juga kami langsung rapat, menyusun konsep
dan membuat proposal. Adri bertugas menyiapkan desain kemasan yang menarik,
Delia dan Dadang fokus pada penyusunan proposal sementara aku dan Maman
bertanggung jawab pada teknis produk. Keesokan harinya kami berangkat ke
Bandung untuk melakukan eksperimen serabi. Mentor kami adalah ambuku tercinta
dan laboraturium kami adalah dapur rumahku. Setelah mencoba berbagai teknik
membuat serabi dengan ide-ide kami akhirnya muncullah serabi-serabi inovatif
kami dengan rasa yang menggugah selera tentunya.
“Keren
bangeeet, bro!” puji Dadang
“Wiih
ini dia nih serabi Hollywood!” celetuk Adri.
“Serabi
Hollywood? Wah, namanya keren banget tuh. Bisa jadi filosofi dari pembuatan
serabi ini. Serabi Hollywood. Serabi lokal citarasa internasional.” jelas
Dadang
Tiga minggu kemudian F4 datang lagi ke Jakarta. Kami
dan Delia melakukan presentasi di depan juri. Awalnya kami ragu bisa menang
karena ide dari tim lainnya sungguh luar biasa. Namun berkat kerja keras,
semangat dan doa, kami memenangkan lomba ini. Hari ini mungkin akan jadi hari
yang tidak terlupakan bagi kami. Setelah gagal nonton Maroon 5 di Jakarta, kami
menginjakkan kaki di California. Dua hari kemarin otak kami diperas
habis-habisan untuk menampilkan yang terbaik demi nama baik Indonesia. Now,
it’s time to refreshing! Kami masih di dalam bus menuju Hollywood. Sebuah kotak
dengan desain batik dan rangkaian album Maroon 5 tertata cantik dipandang mata.
Ya ini dia, paket serabi Hollywood untuk bintang di Hollywood. Asep Sukasep,
Dadang Sudadang, Maman Sumaman, Adri Bahsyah dan Delia Armelita sudah sangat
siap melonjak-lonjak menyanyikan lagu One
More Night atau Misery. Hollywood, we’re
comiiiinggg!!
Langganan:
Postingan (Atom)



